Keterlibatan Komunitas dalam Perencanaan Pembangunan di bantaran sungai winongo

Pemukiman masyarakat di bantaran sungai Winongo, Kampung Gampingan, Kelurahan Pakuncen, Kota Yogyakarta. Diambil oleh Esa Rosliana Anggraeni, 7 Februari 2018

berada dipusat perkotaan kota Yogyakarta keberadaan masyarakat ditengah tekanan permasalahan social dan ekonomi mengakibatkan masyarakat kurang partisipatif dalam perencanaan pembangunan.  Selain itu, perkembangan teknologi di wilayah kota Yogyakarta juga berkembang dengan pesat, karena teknologi sangat diperlukan dalam pengembangan diberbagai bidang dan memudahkan masyarakat dalam melakukan segala aktivitasnya. Namun, dengan berbagai karakteristik tersebut, timbul beberapa masalah dalam kehidupan masyarakat kota. Salah satunya adalah kepadatan penduduk yang tidak terbendung lagi. Masyarakat dari berbagai daerah dan beragam tujuan yang datang ke kota menjadikan kota semakin padat, sehingga kebutuhan akan lahan untuk mendirikan tempat tinggalpun semakin bertambah. Lambat laun, lahan kosongpun semakin sulit dicari. Hingga akhirnya masyarakat yang tidak mendapat tempat tinggal rela untuk tinggal didaerah-daerah pinggiran dan daerah aliran sungai tanpa seizin pemerintah. Karena kurangnya kesadaran akan kebersihan, banyak masyarakat tersebut membuang sampah sembarangan dan acuh terhadap keadaan sekitarnya, sehingga daerah-daerah tersebut berubah menjadi lingkungan yang kumuh, yang dapat mengganggu pemandangan dan merusak keindahan kota. Sejak tahun 2016 pemerintah kota  Yogyakarta telah membuat program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh), namun keterlibatan masyarakat dalam mengapresiasikan usulannya belum sepenuhnya partisipatif dan melibatkan kaum rentan seperti disabilitas, perempuan dan anak.

Yayasan SAUNAMA sebagai organisasi non profit bekerjasama dengan Missereor sejak tahun 2016 telah mendampingi komunitas dikota Yogyakarta yang dilewati sungai Winongo dan berfokus pada tiga kelurahan yaitu Bumijo, Pakuncen dan Pringgokuman dengan focus pendampingan adalah menguatkan masyarakat dalam pemahaman:

  1. Pengelolaan Risiko Bencana
  2. Tata Kelola Pemukiman
  3. Pemanfaatan lahan dan sungai
  4. Tata kelola data

Dari hasil assessment dan pendampingan dari beberapa masyarakat ditemukan bahwa salah tantangan anatra pemerintah dan komunitas maupun NGO yang berproses di wilayah perkotaan adalah belum adanya wadah komunikasi yang menjembatani antara tiga pilar tersebut. Sehingga beberapa pihak maupun pemangku kepentingan setiap tahunnya melakukan pendataan namun tidak ada kolaborasi yang saling menyatukan data dan mengembalikan data sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tim Urban SATUNAMA menginisiasikan untuk diadakannya Sistem Informasi Sungai dan Perkotaan (SISP) yang menjadi kiblat data dan informasi di daerah Perkotaan khususnya didaerah yang dilewati sungai Winongo. Data yang dibutuhkan sesuai dengan focus penguatan yaitu, pengelolaan risiko bencana, tata kelola data, tata kelola pemukiman, dan pemanfaatan laha dan sungai.

Koordinasi Dengan OPD dan Pemangku Kepentingan Untuk Bersinergi Menjawab Tantangan

IMG_4898

Zakaria, Fasilitator FGD mempresentasikan damy SISP dan Praktik baik SISP kota Solo serta kebutuhan yang mendasari pembuatan SISP. Foto diambil pada tanggal 27 Februari 2018.

SATUNAMA telah melakukan koordinasi dan bekerjasama dengan OPD dan Perangkat Kelurahan terkait keterlibatan masyarakat dalam perencanaan anggaran kelurahan dalam Musrembang Kel dan tata kelola data yang digunakan dalam perencanaan pembangunan. Berlandaskan PERWAL NO 11 Tahun 2016 terkait Penuntasan Kemiskinanan berdasarkan Sistem Informasi.  

Setiap warga kampung mengenal wilayahnya dengan baik, kemudian, bagaimana setiap orang, kelompok, dan wilayah saling mengenal potensi dan tantangan masing-masing, lalu bagaimana membangunnya menjadi pengetahuan bersama ditingkat Kelurahan hingga Kota, ini yang menjadi tantangan bersama. FGD Inisiasi Sistem Informasi dengan OrganisasiPerangkat Daerah dan Kelurahan ini telah dilaksanakan pada hari Selasa, 27 Februari 2018 di Kelas Besar, Balai Latihan SATUNAMA Yogyakarta. Pengetahuan setiap orang dan komunitas dimasing-masing wilayah sangat penting untuk didalami dan didokumentasikan dengan baik secara terus-menerus. Keperluannya adalah, pengetahuan tersebut sangat dibutuhkan dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan, agar pembangunan dapat berjalan dengan menempatkan semua pihak pada posisi setara.

Ketika masyarakat sudah baik dalam mengenal potensi dan tantangan masarakat juga terdokumentasikan secara baik pula sehingga menjadi pengetahuan bersama, maka tantangannya adalah bagaimana membangun saluran informasi dan komunikasi agar pengetahuan itu menjadi asupan bagi proses pengambilan keputusan, termasuk soal perencanaan dan penganggaran pembangunan di Kota Yogyakarta.

SATUNAMA Mengndang OPD, Perwakilan dari 3 Perangkat Kelurahan, TKPK Kel  untuk melakukan FGD Inisiasi Sistem Informasi tujuannya adalah memetakan peluang dan tantangan para pemangku kepentingan dalam membangun sistem informasi pembangunan untuk menyusun agenda bersama dalam rangka penguatan partisipasi komunitas dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan.

Dari hasil FGD tersebut hal yang berhasil tercapai adalah,Terpaparkannya hasil pengamatan SATUNAMA dan warga kampung tentang profil Kampung dan Kelurahan konteks partisipasi komunitas dalam perencanaan-penganggaran pembangunan; Adanya pendalaman dan pematangan profil Kampung dan Kelurahan dalam bentuk potensi dan tantangan; Adanya rumusan tujuan bersama untuk mengoptimalkan potensi dan menjawab tantangan komunitas, kampung, dan kelurahan dalam perencanaan pembangunan kota yang partisipatif; Terpaparkannya Dummy Sistem Informasi Sungai dan Perkotaan sekaligus umpan balik dan diskusi; Adanya daftar kebutuhan penguatan kapasitas (pengetahuan dan keterampilan) komunitas, kampung, kelurahan, dan OPD dalam merintis sistem perencanaan dan penganggaran partisipatif ;Adanya komitmen kemitraan antara SATUNAMA, Komunitas, Kampung, Kelurahan, dan OPD; serta Adanya rencana tindaklanjut dan pembagian peran.

Pertemuan FGD Inisiasi Sistem Informasi iniakan dimulai dengan Paparan profil kampung dan kelurahan; Diskusi memperdalam dan mematangkan profil;  Rembug merumuskan dan menyepakati tujuan bersama tentang penguatan komunitas, kampung, dan kelurahan;  Rembug mengenali dan membuat daftar kebutuhan untuk rintisan sistem perencanaan partisipatif; Paparan dummy Sistem Informasi Sungai dan Perkotaan; Rembug membangun komitmen kemitraan; dan  Rembug menyusun rencana tindaklanjut dan pembagian peranan. Dari hasil pertemuan tersebut rencana tindak lanjutnya adalah pertemuan antara 3 Kelurahan atau ‘ Serawung Kampung’.

Serawung Kampung, Menyatukan Aspirasi Masyarakat Tiga Kelurahan

IMG_5003

Partisipan mempresentasikan hasil pemetaan 5 unsur focus isu di Kelurahan masing-masing, foto diambil oleh Esa Rosliana Anggraeni pada tanggal 4 April 2018.

Dari hasil diskusi antara SATUNAMA, OPD serta Perangkat Kelurahan munculah Rencana Tindak Lanjut yaitu diadakannya  Srawung Kampung. Serawung kampung mendatangkan tiga perwakilan perangkat dan masyarakat dari tiga kelurahan yaitu Bumijo, Pakuncen dan Pringgokusuman  dilaksanakan untuk memperdalam hasil pengamatan bersama warga kampung.

Tujuan Srawung Kampung adalah mendalami potensi dan tantangan komunitas untuk menyusun agenda bersama dalam rangka penguatan partisipasi komunitas.

Pertemuan Srawung Kampung akan dimulai dengan Paparan profil kampung dan kelurahan; Diskusi memperdalam dan mematangkan profil; Rembug merumuskan dan menyepakati tujuan bersama tentang penguatan komunitas, kampung, dan kelurahan; Paparan Dummy SISP;  Rembug mengenali dan membuat daftar kebutuhan untuk rintisan sistem perencanaan partisipatif;  Rembug membangun komitmen kemitraan; dan  Rembug menyusun rencana tindaklanjut dan pembagian peran.

Setiap warga kampung mengenal wilayahnya dengan baik, kemudian, bagaimana setiap orang, kelompok, dan wilayah saling mengenal potensi dan tantangan masing-masing, lalu bagaimana membangunnya menjadi pengetahuan bersama ditingkat Kelurahan hingga Kota, ini yang menjadi tantangan bersama. Pengetahuan setiap orang dan komunitas dimasing-masing wilayah sangat penting untuk didalami dan didokumentasikan dengan baik secara terus-menerus. Keperluannya adalah, pengetahuan tersebut sangat dibutuhkan dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan, agar pembangunan dapat berjalan dengan menempatkan semua pihak pada posisi setara. Ketika sudah baik dalam mengenal potensi dan tantangan kita juga terdokumentasikan secara baik pula sehingga menjadi pengetahuan bersama, maka tantangannya adalah bagaimana membangun saluran informasi dan komunikasi agar pengetahuan itu menjadi asupan bagi proses pengambilan keputusan, termasuk soal perencanaan dan penganggaran pembangunan dapat menempatkan semua pihak pada posisi setara, khususnya kelompok rentan, salah satunya kelompok miskin di daerah bantaran sungai Winongo Kota Yogyakarta.

Srawung Kampung ini  bersama-sama mendalami perihal potensi komunitas/kampung, kondisi pemukiman, pengelolaan risiko bencana, serta pemanfaatan lahan dan sungai, dalam bentuk profil kampung dan kelurahan. Partisipan dan fasilitator menetapkan nama-nama kader local. Setelah bersama memetakan potensi kader-kader yang berpotensi untuk terlibat dalam pendataan kualilatif, munculah kebutuhann untuk diadakannya pelatihan penulisan Jurnalistik untuk mengasah kemampuan masayrakat.

 “Pelatihan Jurnalisme Warga, Membangun Pengetahuan dan Keterampilan Komunitas Warga Terkait Jurnalistik untuk Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Partisipatif Kota Yogyakarta dan Advokasi Kebijakan Publik”

Pelatihan Jurnalisme Warga Hari Pertama, Partisipan berdiskusi tentang potensi dan hal yang menarik di masing-masing Kelurahan, Photo credit by Esa Rosliana Anggraeni 26 April 2018.

Agus Kader local Kelurahan Pakuncen mempresentasikan hasil reportasenya dalam pelatihan jurnalisme warga di hari ke dua, photo credit by: Esa Rosliana Anggraeni 27 April 2018.

Setelah kegiatan serawung kampung, Rencana Tindak Lanjut Berikutnya adalah pertemuan antar masing-masing Kelurahan untuk mengidentifikasi kebutuhan apa saja yang diperlukan untuk mengisi SISP yang diinisiasi langsung oleh masyarakat. Berkaitan dengan hal itu, proses advokasi kebijakan publik oleh komunitas warga mendapatkan ekosistem memadai untuk bertumbuh. Jika menelusuri kampung-kampung di Kota Yogyakarta dan bercerita dengan warga di daerah perkotaan, kita akan mendapat banyak data dan fakta tentang ragam hal di Kampung. Potensi komunitas, pemanfaatan lahan dan sungai, pengelolaan risiko bencana, dan kondisi permukiman.

Demikian juga dengan faktor-faktor dari luar kampung yang sedikit-banyak ikut mempengaruhi keempat aspek tersebut hubungannya dengan kualitas daya dukung lingkungan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar komunitas warga, entah keberadaan hotel, peternakan dan pemotongan hewan, tempat-tempat pengelolaan sampah antar wilayah, dan lainnya, masyarakat, baik secara individu dan komunitas punya pengetahuan yang baik terhadapnya.

Berhubungan dengan itu, terkait dengan dasar-dasar pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan (termasuk program, kegiatan, dan anggaran pembangunan), banyak upaya coba terapkan, dalam program ini, salah satunya adalah membangun data terpadu melalui sistem informasi sungai dan perkotaan, salah satu elemen dasar dalam sistem informasi ini adalah Jurnalisme Warga, selain basis data Keluarga Menuju Sejahtera (KMS) sebagai indikator lokal, ada juga Basis Data Terpadu (BDT) sebagai indikator nasional yang dikolaborasikan dalam pengambilan kebijakan terkait dengan program-program pemberdayaan terpadu oleh para pemangku kepentingan, khususnya unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Yogyakarta.

Jurnalisme Warga, konsep yang hidup, tumbuh, dan berkembang sebagai salah satu elemen penyeimbang terhadap berbagai entitas yang memproduksi ragam rupa informasi publik, khususnya media arus utama, seperti televisi dan media cetak. Dalam skala yang luas ditambah pesatnya perkembangan media sosial, setiap orang dapat memproduksi berita dan memublikasikannya dengan berbagai saluran, hanya, tidak sedikit juga proses-proses pengumpulan data dan pengolahannya sampai menjadi informasi atau berita yang dipublikasi mendapatkan catatan refleksi dan evaluasi serius dalam kerangka kerja-kerja jurnalistik, misal, fenomena maraknya hoax di media sosial. Kode etik jurnalistik menjadi syarat mutlak yang harus terpenuhi, dimana para jurnalis warga paham dan terampil dalam menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik pada setiap proses memeroduksi berita, mulai dari pengumpulan data, mengolahnya, dan menyusunnya menjadi berita untuk dipublikasikan melalui saluran tertentu. Sebab, aktifitas jurnalistik erat kaitannya dengan kepentingan publik, sehingga kaidah-kaidah jurnalistik penting untuk menjadi pengetahuan dan keterampilan yang terus dibangun dan diasah, agar kualitas produk jurnalistik yang dihasilkan oleh Jurnalis Warga dapat berkualitas sebagai informasi publik, salah-satunya sebagai bahan pengambilan keputusan yang berdampak pada publik, seperti perencanaan dan penganggaran pembangunan kota.

Dalam pelatihan ini, kita akan belajar Jurnalisme Warga dalam ruang lingkup “Penguatan Partisipasi Komunitas dalam Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan di Kota Yogyakarta”, yang menggunakan Website kelurahan sebagai saluran utama dalam kerangka besar Sistem Informasi Sungai dan Perkotaan. Pelatihan Jurnalisme Warga ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan warga dan komunitas warga tentang Jurnalisme Warga untuk penguatan partisipasi komunitas dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan Kota Yogyakarta. Pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 24-25 April 2018 bertempata di Wisma Semedi Kota Yogyakarta.

Partisipan yang hadir dalam pelatihan ini adalah nama-nama yang diusulkan masyarakat saat kegiatan serawung kampung. Alur proses dalam kegiatan tersebut adalah memperkenalkan partisipan tentang apa saja jenis-jenis jurnalistik, apa itu jurnalisme warga, bagaimana tekhnik penulisan dan pengambilan gambar serta praktik penulisan berita dan diskusi pleno penulisan berita serta pembentukan dewan redaksi antar tim kelurahan.

Dari Kegiatan Pelatihan Jurnalisme Warga selama 2 hari ini telah mencapai hal-hal sebagai berikut

  1. Partisipan paham tentang kecenderungan kebutuhan jurnalisme warga terkait dengan penguatan model-medel perencanaan dan penganggaran pembangunan partisipatif;
  2. Partisipan paham kaidah-kaidah Jurnalistik dan terampil menerapkannya dalam aktifitas Jurnalisme Warga;
  3. Partisipan paham ragam jenis produk jurnalistik dan terampil memproduksinya dalam bentuk berita langsung dan feature article (praktik menulis berita).
  4. Partisipan paham konsep dan teknik-teknik dasar potografi hubungannya dengan produk jurnalistik, termasuk perumusan keterangan foto (photo caption);
  5. Tersedianya 1 berita langsung dan 1 feature article untuk masing-masing tema : potensi komunitas, pemanfaatan lahan dan sungai, pengelolaan risiko bencana, dan kondisi permukiman;
  6. Dibentuknya tim posting berita (update) ke Portal (website) dimasing-masing kelurahan;
  7. Adanya rencana tindak lanjut dan pembagian peran di masing-masing Kelurahan;

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *